Tri Hita Karana (THK)
Nama :
Elsa Lorenta Br Sinukaban
NIM :
2012011033
Kelas :
2A
Rombel : 43
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pemimpin Yang Berlandaskan Tri Hita Karana (THK)
Pemimpin adalah orang yang mengemban tugas dan tanggung
jawab untuk memimpin dan bisa
mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Dengan menjadi seorang pemimpin berarti
harus siap untuk pengayom rakyat. Artinya bukan hanya memimpin tetapi juga ikut
ambil bagian dalam menyejahterakan rakyat. Pemimpin yang baik harus bisa legowo
dalam hal apapun, berani untuk mengambil resiko dan juga harus siap menerima
kekalahan.
Kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi atau memberi
contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai
tujuan organisasi. Pengaruh
gaya kepemimpinan akan berdampak
pada kinerja bawahan.
Dalam memotivasi kinerja
dari perusahaan atau organisasi
sangat ditentukan oleh
gaya kepemimpinan dari
seorang pemimpin. Dalam budaya bali kepemimpinan hindu dikenal dengan
ajaran atau konsep Asta Brata. Asta Brata adalah contoh kepemimpinan hindu yang terdapat dalam Itihasa Ramayana.
Asta Brata yaitu delapan tipe kepemimpinan yang merupakan delapan sifat
kemahakuasaan Tuhan. Ajaran
ini diberikan Sri
Rama kepada Wibhisana
sebagai raja Alengka Pura
menggantikan kakaknya Rahwana. Dalam konsep Asta Brata ada delapan ajaran kepemimpinan
hindu yang perlu
diterapkan dan dijadikan
sebagai pedoman dalam diri
seorang pemimpin. Selain konsep Asta Brata, seorang pemimpin juga sangat
membutuhkan dasar-dasar dalam
menjalankan tugasnya. Dalam
ajaran agama Hindu dasar-dasar yang
dijadikan pedoman oleh
seorang pemimpin adalah
Konsep Tri Hita Karana.
Pemimpin akan selalu berkorelasi dengan
tanggung jawab, sebab tanggung
jawab tersebut menjadi domain kuasa
terhadap apa yang dipimpinnya. Jika pada suatu saat
seorang pemimpin tidak
sanggup untuk memainkan atau
memerankan tanggung jawab tersebut,
maka kredibilitas dari seorang
pemimpin itu akan dipertanyakan banyak orang. Tanggung jawab
ini menjadi sebuah stempel ataupun tanda pengenal yang
akan melekat dan menjadi ciri khas dari kepemimpinannya tersebut. Terlepas
dengan hal itu, seorang pemimpin
harus memiliki visi dan
misi yang jelas atas pendirian
dan komitmen serta tanggung jawab
dengan tugas yang di embannya. Hal
yang lumrah apabila seorang pemimpin
mendapat banyak cibiran atas
kinerjanya. Namun seberapa keras cibiran
tersebut, pemimpin harus
pintar dalam mengatur strategi tersebut
untuk bisa dijadikan bahan evaluasi
dalam memperbaiki kinerjanya
menjadi lebih baik.
Pemimpin hendaknya
memiliki sifat-sifat utama dari
bumi (Kuwera) pada
ajaran Asta Bratayaitu teguh,
menjadi landasan pijak dan memberi kehidupan (kesejahteraan) untuk rakyatnya.
Bumi selalu dicangkul dan
digali, namun bumi tetap
iklas dan rela.
Begitu pula dengan seorang
pemimpin yang rela mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan
rakyatnya. Seorang pemimpin
haruslah memiliki sikap welas
asih seperti sifat-sifat bumi. Falsafah bumi yang lain
adalah air tuba dibalas dengan
air susu. Keburukan selalu dibalas
dengan kebaikan dan keluhuran. Pada konsep Asta
Brata pada bagian
Kuwera Brata ini yang dimana seorang pemimpin berfokus pada rasa
kepercayaan masyarakat yang harus
dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Dalam Kuwera Brata, seorang pemimpin
diajarkanuntuk memiliki etika dan moral
yang baik dengan menunjukkan sikap-sikap yang bijaksana dalam
hal penggunaan dana atau
uang, serta selalu adanya
suatu keinginan untuk mensejahterakan masyarakat sehingga tidak menjadi
sosok pemimpin yang
boros yang pada akhirnya menyebabkan kerugian pada
masyarakat. Namun, belakangan ini sering terdengar dan terlihat
kasus-kasus tergolong tidak etis
yang dilakukan oleh
pemimpin bali yang notabene
akan menjadi sorotan dalam etika
kepemimpinan hindu di Bali.
Terjadinya kasus-kasus seperti Korupsi, Kolusi
dan Nepotisme sangat merugikan masyarakat
pada umumnya.
Menggunakan dana untuk
kepentingan pribadi yang seharusnya
dipergunakan untuk pemerataan ekonomi pada masyarakat. Hal
ini berdampak buruk sehingga dapat mengakibatkan
kesenjangan ekonomi yang
dapat merugikan masyarakat dan Negara. Keberanian, keadilan dan
bijaksana adalah sifat
yang sudah seharusnya dimiliki
oleh seorang pemimpin. Sifat berani, adil, dan bijaksana dalam
kepemimpinan asta brata
tercermin dalam jiwa
pemimpin hindu yang dimana dalam kepemimpinannya selalu
mengutamakan kepentingan masyarakat dibandingkan dengan kepentingan
pribadi. Seorang pemimpin
yang adil akan selalu
bersikap seimbang baik
itu dengan keluarga, rekan
dan rakyatnya. Bersikap adil
menurut hukum adat
dan peraturan yang berlaku dengan mengayomi rakyatnya. Harus menindak tegas abdinya jika mengehtahui
abdinya itu memakan uang rakyat dan menghianati
masyarakatnya. Sikap ini merupakan
cerminan dari sosok
Yama Brata pada ajaran Asta Brata. Seorang pemimpin senantiasa memberikan kesegaran
dan selalu turun ke
bawah melihat rakyatnya.
Angin tidak berhenti memeriksa
dan meneliti, selalu melihat
perilaku manusia, bisa menjelma besar atau kecil, berguna jika
digunakan. Jalannya tidak
kelihatan, nafsunya tidak ditonjolkan.
Jika ditolak ia tidak
marah dan jika
ditarik ia tidak membenci. Seorang
pemimpin harus berjiwa teliti
dimana saja berada.
Baik buruknya rakyat harus
diketahui oleh mata kepala
sendiri, tanpa menggantungkan
laporan bawahannya.
Biasanya, bawahan begitu
pelit dan selektif dalam
memberikan laporan kepada pemimpin,
dan terkadang hanya kondisi baik-baiknya saja yang
diberitahukan kepada pemimpinnya.
Menurut saya pribadi seorang yang dipercaya menjadi pemimpin, hendaknya
mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya
dan dalam segala tindakannya
dapat membawa kesejukan dan
kewibawaan yang seperti bintang.
Maknanya, seorang pemimpin haruslah kuat,
tidak mudah goyah, berusaha menggunakan kemampuan untuk kebaikan rakyat, tidak
mengumbar hawa nafsu,
kuat hati dan tidak
suka berpura-pura. Seorang pemimpin haruslah adil seperti
air, yang jika diseduh di gelas akan
rata mengikuti wadahnya. Keadilan yang ditegakkan bisa
memberi kecerahan ibarat air
yang membersihkan kotoran. Air
juga tidak akan pernah pilih kasih karena air akan selalu
turun ke bawah, dan tidak akan pernah tidak naik ke atas. Hal
ini tergambar dari
konsep kepemimpinan Hindu yaitu
bagian dari sifat Indra Brata.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik
haruslah memiliki sifat dan
sikap seperti matahari
(surya) yang mampu memberi
semangat dan kekuatan yang
penuh dinamika serta menjadi sumber
energy bagi bumi pertiwi. Sifat
matahari berarti sabar dalam
bekerja, tajam, terarah
dan tanpa pamrih. Semua yang dijemur pasti kena sinarnya, tetapi
tidak dengan serta merta langsung
dikeringkan. Jalannya terarah dab
luwes. Tujuannya agar
setiap manusia sabar dan
tidak sulit dalam mengupayakan rejeki. Menjadi matahari
juga menjadi inspirasi pada bawahnnya, ibarat
matahari yang selalu
menyinari alam semesta. Keterkaitan dengan konsep Surya Brata pada sifat
kepemimpinan sangat perlu
diterapkan oleh seorang pemimpin untuk menjadikan sebuah
motivasi bagi bawahannya. Oleh
sebab itu jika kita inggin menjadi pemimpin yang baik harus lah memiliki sifat dan
sikap seperti matahari
(surya) yang mampu memberi
semangat dan kekuatan yang
penuh dinamika serta menjadi sumber
energy bagi bumi pertiwi. Sifat
matahari berarti sabar dalam
bekerja, tajam, terarah
dan tanpa pamrih. Semua yang dijemur pasti kena sinarnya, tetapi
tidak dengan serta merta langsung
dikeringkan. Jalannya terarah dan luwes. Tujuannya agar
setiap manusia dapat
bersabar dan tidak
sulit dalam mengupayakan rejeki.
Menjadi matahari juga menjadi inspirasi pada bawahnnya, ibarat matahari
yang selalu menyinari alam semesta.
Oleh karena pemaparan saya di atas saya dapat mengambil
kesimpulan yaitu THK merupakan
suatu ajaran dan
pedoman yang menjadi konsep
ideal serta landasan dasar
dari etika seorang pemimpin menurut Hindu untuk
menciptakan kepemimpinan yang menghasilkan
komunikasi yang baik, hubungan yang
harmonis sehingga memicu kerukunan
dan berhasil untuk menciptakan suatu
kebahagiaan antara manusia dengan
Tuhan, manusia dengan sesamanya, serta
hubungan manusia dengan lingkungannya.
Sekian & Terima Kasih