Rabu, 26 Mei 2021

Pemimpin Yang Berlandaskan Tri Hita Karana (THK)

Tri Hita Karana (THK)

Nama                    : Elsa Lorenta Br Sinukaban

NIM                       : 2012011033

Kelas                     : 2A

Rombel                 : 43

Prodi                     : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia


Pemimpin Yang Berlandaskan Tri Hita Karana (THK)


    Pemimpin adalah orang yang mengemban tugas dan tanggung jawab untuk memimpin dan  bisa mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Dengan menjadi seorang pemimpin berarti harus siap untuk pengayom rakyat. Artinya bukan hanya memimpin tetapi juga ikut ambil bagian dalam menyejahterakan rakyat. Pemimpin yang baik harus bisa legowo dalam hal apapun, berani untuk mengambil resiko dan juga harus siap menerima kekalahan.

    Kepemimpinan  adalah  proses  mempengaruhi  atau  memberi  contoh  oleh  pemimpin kepada   pengikutnya   dalam   upaya   mencapai   tujuan   organisasi.   Pengaruh   gaya kepemimpinan  akan  berdampak  pada  kinerja  bawahan.  Dalam  memotivasi  kinerja  dari perusahaan  atau  organisasi  sangat  ditentukan  oleh  gaya  kepemimpinan  dari  seorang pemimpin. Dalam budaya bali kepemimpinan hindu dikenal dengan ajaran atau konsep Asta Brata. Asta Brata adalah contoh kepemimpinan hindu  yang terdapat dalam Itihasa Ramayana. Asta  Brata  yaitu delapan tipe kepemimpinan  yang merupakan delapan sifat kemahakuasaan  Tuhan.  Ajaran  ini  diberikan  Sri  Rama  kepada  Wibhisana  sebagai  raja Alengka Pura menggantikan kakaknya Rahwana. Dalam konsep Asta Brata ada delapan ajaran  kepemimpinan  hindu  yang  perlu  diterapkan  dan  dijadikan  sebagai  pedoman dalam diri seorang pemimpin. Selain konsep Asta Brata, seorang pemimpin juga sangat membutuhkan  dasar-dasar  dalam  menjalankan  tugasnya.  Dalam  ajaran  agama  Hindu dasar-dasar  yang  dijadikan  pedoman  oleh  seorang  pemimpin  adalah  Konsep  Tri  Hita Karana.

    Pemimpin akan selalu berkorelasi   dengan   tanggung   jawab, sebab  tanggung  jawab  tersebut  menjadi domain    kuasa    terhadap    apa    yang dipimpinnya. Jika pada suatu saat seorang  pemimpin  tidak  sanggup  untuk memainkan  atau  memerankan  tanggung jawab  tersebut,  maka  kredibilitas  dari seorang  pemimpin itu akan dipertanyakan banyak orang. Tanggung   jawab   ini   menjadi   sebuah stempel ataupun tanda pengenal yang akan melekat dan menjadi ciri khas dari kepemimpinannya tersebut.    Terlepas    dengan    hal    itu, seorang  pemimpin  harus  memiliki  visi dan  misi  yang jelas atas  pendirian  dan  komitmen serta tanggung jawab dengan tugas yang di  embannya.  Hal  yang  lumrah  apabila seorang   pemimpin   mendapat banyak cibiran atas  kinerjanya. Namun  seberapa  keras cibiran  tersebut,  pemimpin  harus  pintar dalam  mengatur strategi  tersebut  untuk bisa dijadikan bahan evaluasi   dalam memperbaiki kinerjanya  menjadi  lebih baik.

    Pemimpin hendaknya   memiliki   sifat-sifat   utama dari  bumi  (Kuwera)  pada  ajaran  Asta Bratayaitu teguh, menjadi landasan pijak dan memberi kehidupan (kesejahteraan) untuk  rakyatnya.  Bumi selalu   dicangkul   dan   digali,   namun bumi  tetap  iklas  dan  rela.  Begitu  pula dengan seorang pemimpin yang rela mengorbankan kepentingan pribadi demi  kepentingan  rakyatnya.  Seorang pemimpin haruslah memiliki sikap welas    asih    seperti    sifat-sifat bumi. Falsafah bumi  yang lain  adalah  air tuba dibalas   dengan   air   susu.   Keburukan selalu   dibalas   dengan   kebaikan   dan keluhuran. Pada konsep  Asta  Brata  pada  bagian  Kuwera Brata ini yang dimana seorang pemimpin berfokus pada rasa kepercayaan   masyarakat yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Dalam Kuwera Brata, seorang pemimpin diajarkanuntuk memiliki etika dan moral   yang baik dengan menunjukkan sikap-sikap yang bijaksana  dalam  hal  penggunaan  dana atau   uang, serta   selalu   adanya   suatu keinginan untuk mensejahterakan masyarakat sehingga tidak menjadi sosok  pemimpin  yang  boros  yang  pada akhirnya menyebabkan kerugian pada masyarakat. Namun, belakangan ini sering terdengar dan  terlihat  kasus-kasus  tergolong  tidak etis  yang  dilakukan  oleh  pemimpin  bali yang   notabene   akan   menjadi   sorotan dalam   etika   kepemimpinan   hindu   di Bali.   Terjadinya   kasus-kasus   seperti Korupsi,  Kolusi  dan  Nepotisme  sangat merugikan  masyarakat  pada  umumnya.

    Menggunakan  dana  untuk  kepentingan pribadi  yang  seharusnya  dipergunakan untuk pemerataan ekonomi pada masyarakat.  Hal  ini  berdampak  buruk sehingga dapat mengakibatkan kesenjangan     ekonomi     yang     dapat merugikan masyarakat dan Negara. Keberanian, keadilan dan bijaksana    adalah    sifat    yang    sudah seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Sifat berani, adil, dan bijaksana   dalam   kepemimpinan asta brata  tercermin  dalam  jiwa  pemimpin hindu yang dimana dalam kepemimpinannya selalu mengutamakan  kepentingan  masyarakat dibandingkan dengan kepentingan pribadi.  Seorang  pemimpin  yang  adil akan  selalu  bersikap  seimbang  baik  itu dengan  keluarga,  rekan  dan  rakyatnya. Bersikap  adil  menurut  hukum  adat  dan peraturan yang berlaku dengan mengayomi rakyatnya.  Harus menindak tegas abdinya jika mengehtahui abdinya itu memakan uang rakyat dan menghianati  masyarakatnya.  Sikap  ini merupakan  cerminan  dari  sosok  Yama Brata pada ajaran Asta Brata. Seorang     pemimpin     senantiasa memberikan  kesegaran  dan  selalu  turun ke   bawah   melihat   rakyatnya.   Angin tidak  berhenti  memeriksa  dan  meneliti, selalu  melihat  perilaku  manusia,  bisa menjelma besar atau kecil, berguna jika digunakan.   Jalannya   tidak   kelihatan, nafsunya  tidak  ditonjolkan.  Jika  ditolak ia  tidak  marah  dan  jika  ditarik  ia  tidak membenci.   Seorang   pemimpin   harus berjiwa  teliti  dimana  saja  berada.  Baik buruknya  rakyat  harus  diketahui  oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan  laporan  bawahannya. Biasanya,   bawahan   begitu   pelit   dan selektif    dalam    memberikan    laporan kepada  pemimpin,  dan  terkadang  hanya kondisi baik-baiknya saja yang diberitahukan kepada pemimpinnya.

    Menurut saya pribadi seorang yang dipercaya menjadi pemimpin,   hendaknya   mengusahakan kemakmuran  bagi  rakyatnya  dan  dalam segala   tindakannya   dapat   membawa kesejukan dan kewibawaan yang seperti bintang.  Maknanya,  seorang  pemimpin haruslah   kuat,   tidak   mudah   goyah, berusaha    menggunakan    kemampuan untuk kebaikan rakyat, tidak mengumbar  hawa  nafsu,  kuat  hati  dan tidak     suka     berpura-pura.     Seorang pemimpin haruslah adil seperti air, yang jika diseduh di    gelas    akan    rata mengikuti   wadahnya. Keadilan   yang ditegakkan   bisa   memberi   kecerahan ibarat  air  yang  membersihkan  kotoran. Air   juga   tidak   akan pernah pilih kasih karena air akan  selalu  turun  ke  bawah, dan tidak akan pernah tidak naik ke  atas. Hal  ini  tergambar  dari  konsep kepemimpinan  Hindu  yaitu  bagian  dari sifat Indra Brata. Untuk menjadi seorang pemimpin  yang  baik  haruslah  memiliki sifat  dan  sikap  seperti  matahari  (surya) yang  mampu  memberi  semangat  dan kekuatan   yang   penuh   dinamika   serta menjadi    sumber    energy    bagi    bumi pertiwi.   Sifat   matahari   berarti   sabar dalam  bekerja,  tajam,  terarah  dan  tanpa pamrih. Semua  yang dijemur pasti kena sinarnya, tetapi tidak dengan serta merta langsung  dikeringkan.  Jalannya  terarah dab    luwes.    Tujuannya    agar    setiap manusia   sabar   dan   tidak   sulit   dalam mengupayakan rejeki. Menjadi matahari juga menjadi inspirasi pada bawahnnya, ibarat  matahari  yang  selalu  menyinari alam    semesta.    Keterkaitan    dengan konsep Surya Brata pada sifat kepemimpinan  sangat  perlu  diterapkan oleh seorang pemimpin untuk menjadikan     sebuah     motivasi     bagi bawahannya. Oleh sebab itu jika kita inggin menjadi pemimpin yang baik harus lah  memiliki sifat  dan  sikap  seperti  matahari  (surya) yang  mampu  memberi  semangat  dan kekuatan   yang   penuh   dinamika   serta menjadi    sumber    energy    bagi    bumi pertiwi.   Sifat   matahari   berarti   sabar dalam  bekerja,  tajam,  terarah  dan  tanpa pamrih. Semua  yang dijemur pasti kena sinarnya, tetapi tidak dengan serta merta langsung  dikeringkan.  Jalannya  terarah dan luwes. Tujuannya    agar    setiap manusia   dapat bersabar   dan   tidak   sulit   dalam mengupayakan rejeki. Menjadi matahari juga menjadi inspirasi pada bawahnnya, ibarat  matahari  yang  selalu  menyinari alam semesta.

    Oleh karena pemaparan saya di atas saya dapat mengambil kesimpulan yaitu THK merupakan  suatu  ajaran  dan  pedoman yang    menjadi    konsep    ideal    serta landasan    dasar    dari    etika    seorang pemimpin menurut Hindu untuk menciptakan kepemimpinan yang menghasilkan   komunikasi   yang   baik, hubungan    yang    harmonis    sehingga memicu  kerukunan  dan  berhasil  untuk menciptakan  suatu  kebahagiaan  antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan    sesamanya,    serta    hubungan manusia dengan lingkungannya. 


Sekian & Terima Kasih 


Pemimpin Yang Berlandaskan Tri Hita Karana (THK)

Tri Hita Karana (THK) Nama                     : Elsa Lorenta Br Sinukaban NIM                        : 2012011033 Kelas              ...